Minggu, 20 Juni 2010

Sepatu Si Bapak Tua

Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi. Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, ''Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?'' Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ''Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.''
Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.
Sikap mempertahankan sesuatu -- termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi -- adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.
Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah. Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.
Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan kembali kepadaNya. Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan, pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah ini dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.
Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur. Kenapa? Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi ''perpanjangan tangan'' Tuhan. Anda tak merasa terganggu karena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan ''titipan'' Tuhan untuk membantu orang yang sedang kesulitan.
Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak.
Tapi, bukankah dalam proses memberi dan menerima ada pihak yang akan bertambah sementara pihak yang lain menjadi berkurang? Kalau Anda berpendapat demikian berarti Anda sudah teracuni konsep Zero Sum Game yang mengatakan kalau ada yang bertambah pasti ada yang berkurang, kalau ada yang untung pasti ada yang rugi, kalau ada yang menang pasti ada yang kalah. Padahal esensi hidup yang sebenarnya adalah menang-menang. Kalau kita memberi kepada orang lain, milik kita sendiri pun akan bertambah.
Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Ambilah contoh kasus bapak tua tadi. Kalau ia tetap menahan sepatunya maka tak ada pihak yang dapat memanfaatkan sepatu tersebut. Kondisi ini adalah kalah-kalah (loose-loose). Sebaliknya dengan melemparkannya, sepatu ini akan bermanfaat bagi orang lain. Lalu apakah si bapak tua benar-benar kehilangan? Tidak. Ia memperoleh kenikmatan batin karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Betul, secara fisik ia kehilangan tetapi ia mendapatkan gantinya secara spiritual.
Perasaan inilah yang selalu akan Anda dapatkan ketika Anda membantu orang lain: menolong teman yang kesulitan, memberikan uang pada pengemis di jalan, dan sebagainya. Kita kehilangan secara fisik tapi kita mendapatkan ganti yang jauh lebih besar secara spiritual.
Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak:
''Engkau tidak pernah memiliki sesuatu
Engkau hanya memegangnya sebentar
Kalau engkau tak dapat melepaskannya, engkau akan
terbelenggu olehnya.
Apa saja hartamu, harta itu harus kau pegang dengan
tanganmu seperti engkau menggenggam air.
Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas. Akulah itu sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya.
Lepaskanlah, dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya''.

Jumat, 18 Juni 2010

6 Jurus Baterai Ponsel Lebih Awet

SAAT ini, sudah bisa dibilang kehadiran ponsel menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal jadi dimudahkan dengan hadirnya ponsel. Namun, apa arti ponsel tanpa baterai? Berikut tips menjaga ponsel beserta baterainya agar tetap dalam kondisi prima dalam waktu yang lama.

Ponsel tak ada artinya jika tanpa baterai. Tak heran jika banyak orang selalu mengisi baterainya sebelum berangkat ke mana-mana. Namun, bagaimana jika di tengah-tengah jalan baterai drop dan Anda tak memiliki cadangan?

Mungkin Anda pernah mengalami hal ini. Ada dua penyebab baterai drop, yang pertama adalah karena kualitas baterai Anda yang di bawah standar. Kedua, karena pemakaian ponsel yang tak efisien. Agar baterai ponsel Anda dapat "hidup" lebih lama, simak beberapa jurus berikut:

1. "Brightness" ponsel
Redupkan brightness layar ponsel Anda hingga lima puluh persen agar energi baterai yang terpakai lebih hemat. Aturlah durasi backlight Anda, jangan biarkan menyala terlalu lama, cukup 5-15 detik saja. Lalu, matikan juga bluetooth, GPRS, atau infrared Anda jika tidak digunakan. Jika tidak terlalu perlu, jangan sering-sering bermain game, mendengarkan, atau melakukan panggilan video.
2. Mati-hidup ponsel
Jangan terlalu sering menghidupkan atau mematikan ponsel Anda. Pasalnya, tenaga yang dibutuhkan untuk mencari kembali jaringan pelanggan sangat besar. Hal ini akan mengurangi waktu siaga ponsel Anda antara 1-2 jam.

3. Isi ulang ponsel
Jika baterai habis, segeralah isi ulang ponsel Anda hingga penuh. Agar baterai tidak mengembang atau memuai, pastikan untuk mencabut charger dari soket listrik dan kabel dari ponsel bila baterai sudah terisi penuh.

4. Aktifkan yang penting saja
Jangan aktifkan nada dering dan getar sekaligus karena akan menguras energi baterai, aktifkan salah satunya saja. Misalnya, saat berada di bioskop atau ruang rapat sebaiknya aktifkan getarnya saja. Namun, aktifkanlah nada dering saat berada di tempat publik, seperti mal, stasiun, dan bandara.

5. Simpan di tempat yang tepat
Letakkan ponsel Anda di tempat yang temperaturnya normal sehingga tidak terjadi kerusakan akibat suhu yang terlalu tinggi atau rendah. Misalnya, jangan letakkan ponsel di dalam mobil yang terkena matahari, di atas laptop, atau mesin game yang suhunya panas.

6. Jangan paksa ponsel ketika sulit sinyal
Sebaiknya matikan saja ponsel, jika Anda berada di daerah yang sulit mendapatkan sinyal. Sebab, ponsel akan terus berusaha mencari sinyal, sehingga mengakibatkan baterai menjadi boros.


Sumber : Sripoku.com

Rabu, 09 Juni 2010

Niat, Ikhlas & Jujur


Bagi orang-orang yang hatinya telah diisi bias iman dan cahaya Al-Qur’an telah menyadari bahwa kebahagiaan tidak bisa dicapai kecuali dengan ilmu dan amalan ibadah. Demikian juga ia menyadari bahwa sebab-sebab timbulnya kebinasaan yakni :

a. Semua manusia akan binasa, kecuali orang-orang yang berilmu

b. Semua orang yang berilmu akan binasa kecuali orang yang mengamalkan ilmunya

c. Semua orang yang beramal akan binasa, kecuali orang-orang yang ikhlas (niat sebelum dan sesudah beramal)


Amal tanpa disertai niat akan terasa berat. Namun demikian, jika niat tanpa disertai ikhlas maka akan sia-sia. Karena pada hakikatnya ia beramal hanya untuk dirinya sendiri yakni memuaskan hawa-nafsunya.

Tugas pertama setiap hamba Allah yang menghendaki ketaatan kepada Allah ialah mengetahui niatnya terlebih dahulu, agar dia benar-benar mendapatkan ma’rifat (pemahaman yang benar), lalu meluruskannya dengan amal.

Tugas kedua setiap hamba Allah yang menghendaki keselamatan dari Allah ialah mengetahui segala amal yang diridhai oleh Allah dan yang dimurkai-Nya. Tentunya hal ini memerlukan perangkat yakni ilmu.

Dapatkah kita beramal agar diridhai oleh Allah, seandainya kita tidak mengetahui hakikat niat, ikhas dan kejujuran? Dapatkah kita ikhlas beramal tanpa meluruskan niat? Dapatkah ikhlas itu terwujud tanpa kejujuran?


Setelah ia memahami hakikat kejujuran dan ikhlas, yang keduanya merupakan sarana bagi hamba Allah untuk mendapatkan keselamatan. Maka ia akan selalu introspeksi dan meluruskan niatnya sebelum, pada saat dan sesudah beramal agar amalannya semata-mata hanya untuk mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yakni dengan mengaplikasikan segala ketundukan dan ketaatan hanya kepada-Nya.

Hakikat Niat

Niat adalah dorongan jiwa dan kecenderungannya kepada sesuatu, bahwa sesuatu itu ada maslahatnya. Niat adalah dorongan hati yang hanya bisa diketahui oleh Allah semata. Contohnya: Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dia berkata;

“ Wahai Rasulullah, apa pendapat engkau tentang seseorang yang berperang karena didorong keberanian, berperang karena sifat ksatria, berperang karena riya’, manakah yang demikian itu yang berada di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah.” (HR. Bukhary – Muslim).
Contoh lain seperti orang berniat sholat malam, akan tetapi niatnya tidak terlaksana karena tertidur atau sebab lainnya. Maka ia mendapatkan kebaikan karena niatnya walaupun ia belum melakukan apa yang ia niatkan!

Oleh karena itu fungsi dan keutamaan niat adalah sebagai pembeda dalam beramal dan menambah pahala dan keutamaan. Orang yang cerdas dan sehat akalnya akan selalu melihat niatnya sebelum beramal agar dia mendapatkan keutamaan dan tidak menyia-nyiakan kesempatan meraih pahala.

Macam-macam bentuk amalan :

1. Kedurhakaan – niat tidak dapat merubah kedurhakaan menjadi kebaikan. Contoh orang mencuri dengan niat mencari nafkah untuk keluarganya atau membangun masjid dll. Hukuman bagi pencuri atau korupsi tetap berlaku baginya! Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah shallallahu ‘alaihi wa salam) dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya.

2. Ketaatan – amal ketaatan sangat tergantung dengan niat yang ”ikhlas” tentang dasar keabsahannya dan kelipatan keutamaannya. Seperti niat ”hijrah” mendapatkan wanita yang akan dikawinnya, maka hijrahnya tidak dinilai sebagai sebuah ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala walaupun ia berhijrah bersama-sama Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari Mekah ke Madinah. Oleh karena itu agar hijrahnya dinilai sebagai sebuah ketaatan kepada Allah maka niat hijrahnya harus IKHLAS hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

3. Mubah – dengan niat untuk taqarub kepada Allah akan mendapatkan pahala. Contoh seperti orang yang makan dan minum yang diniatkan untuk taqarub kepada Allah agar ia mendapatkan kekuatan dan kesanggupan untuk melakukan kewajiban dan ibadah kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala.

Hakikat Ikhlas

Bisa digambarkan seperti sesuatu yang bersih dari segala noda. Ikhlas kebalikan dari isyrak (persekutuan). Orang yang ikhlas ialah yang tak mempunyai pendorong kecuali hanya untuk taqarub kepada Allah semata dan mendapatkan keridhaan-Nya semata. Dan hukum amal yang ternoda oleh riya’ tergantung sejauh mana noda tersebut mengotorinya.

Jujur, Hakikat dan Keutamaannya

Istilah jujur bisa berlaku untuk beberapa makna diantaranya :

1. Jujur dalam perkataan

2. Jujur dalam niat dan kehendak (ikhlas)

3. Jujur dalam hasrat dan pemenuhan hasrat itu

4. Jujur dalam amal

5. Jujur dalam berbagai kondisi keagamaan

MAKNA IKHLAS
Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa makna Al-Ikhlas? Dan, bila seorang hamba menginginkan melalui ibadahnya sesuatu yang lain, apa hukumnya?


Jawaban:
Ikhlas kepada Allah Ta’ala maknanya seseorang bermaksud melalui ibadahnya tersebut untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan keridhaan-Nya.

Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka disini perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut :

Pertama:
Dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini dan mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini menggugurkan amalan dan termasuk syirik.

Di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

“Artinya : Aku adalah Dzat Yang paling tidak butuh kepada persekutuan para sekutu ; barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang didalamnya dia mempersekutukan-Ku dengan sesuatu selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya berserta kesyirikan yang diperbuatnya” [1]

Kedua:
Dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duniawi seperti kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah ; maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuai neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” [Hud : 15-16]

Perbedaan antara klasifikasi kedua ini dan pertama ; Bahwa dalam klasifikasi pertama, orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi kedua ini, dia tidak bermaksud agar dirinya di puji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli atas pujian orang terhadap dirinya. Hanya saja ia berkehendak untuk mendapatkan keunutungan duniawi yakni harta dan kekuasaan.

Ketiga:
Dia bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, disamping itu ada tujuannya untuk duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya –disamping niat beribadah kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya ; dia berhaji –disamping niat beibadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jama’ah haji ; maka hal ini akan mengurangi pahala ikhlas jika seandainya yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, hanya saja konsekuensinya pahala lengkap yang seharusnya akan dia raih akan terlewatkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala mengenai para jama’ah haji.

“Artinya : Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabb-mu” [Al-Baqarah : 198]

Jika yang dominan adalah niat selain ibadah, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat, yang didapatnya hanyalah pahala apa yang dihasilkannya untuk dunia yang ia niatkan. Saya khawatir malah dia berdosa karena hal itu, sebab dia telah menjadikan ibadah yang semestinya merupakan tujuan yang paling tinggi, sebagai sarana untuk meraih kehidupan duniawi yang hina. Maka tidak ubahnya seperti orang yang dimaksud di dalam firmanNya.

“Artinya : Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat ; jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah” [At-Taubah : 58]

Di dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata : ‘Wahai Rasulullah, (bagaimana bila ,-penj) seorang laki-laki ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dia tidak mendapatkan pahala” Orang tadi mengulangi lagi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sama, “Dia tidak mendapatkan pahala” [2]

Demikian pula hadits yang terdapat di dalam kitab Ash-Shahihain dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang hijrahnya karena ingin meraih kehidupan duniawi atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya mendapatkan tujuan dari hijrahnya tersebut” [3]

Jika persentasenya sama saja, tidak ada yang lebih dominan antara niat beribadah dan non ibadah ; maka hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Akan tetapi, pendapat yang lebih persis untuk kasus seperti ini adalah sama juga ; tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal karena Allah dan karena selain-Nya juga.

Perbedaan antara jenis ini dan jenis sebelumnya (jenis kedua), bahwa tujuan yang bukan untuk beribadah pada jenis sebelumnya terjadi secara otomatis. Jadi, keinginannya tercapai melalui perbuatannya tersebut secara otomatis seakan-akan yang dia inginkan adalah konsekuensi logis dari pekerjaan yang bersifat duniawi itu.

Jika ada yang mengatakan, “Apa standarisasi pada jenis ini sehingga bisa dikatakan bahwa tujuannya yang lebih dominan adalah beribadah atau bukan beribadah?”

Jawabannya: standarisasinya bahwa dia tidak memperhatikan hal selain ibadah, maka hal itu tercapai atau tidak tercapai, telah mengindikasikan bahwa yang lebih dominan padanya adalah niat untuk beribadah, demikian pula sebaliknya.

Yang jelas perkara yang merupakan ucapan hati amatlah serius dan begitu urgen sekali. Indikasinya, bisa jadi hal itu dapat membuat seorang hamba mencapai derajat sebagai orang yang ash-Shiddiqin, dan sebaliknya bisa pula mengembalikannya ke derajat yang paling bawah sekali.

Sebagian ulama Salaf berkata, “Tidak pernah diriku berjuang melawan sesuatu melebihi perjuangannya melawan (perbuatan) ikhlas”

Kita memohon kepada Allah untuk kami dan anda semua agar dianugrahi niat yang ikhlas dan lurus di dalam beramal.

[Kumpulan Fatwa dan Risalah dari Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 1, hal. 98-100]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Albalad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

Foote Note.

[1]. Shahih Muslim, kitab Az-Zuhd (2985)
[2]. Sunan Abu Daud kitab Al-Jihad (2516), Musnad Ahmad, Juz II, hal. 290, 366 tetapi di dalam sanadnya terdapat Yazid bin Mukriz, seorang yang tidak diketahui identitasnya (majhul) ; lihat juga anotasi dari Syaikh Ahmad Syakir terhadap Musnad Ahmad no. 7887
[3]. Shahih Al-Bukhari, kitab Bad’u Al-Wahyi (1), Shahih Muslim, kitab Al-Imarah (1907)

Minggu, 16 Mei 2010

Anda Pekerja Keras? Sebaiknya Baca Ini

Orang yang bekerja 10 atau 11 jam per hari mungkin bisa menyebut diri pekerja keras, tapi sebenarnya dia menghadapi kemungkinan lebih besar untuk menderita gangguan jantung serius, termasuk serangan jantung, dibandingkan dengan mereka yang berhenti kerja setelah tujuh jam, demikian pernyataan beberapa peneliti.

Temuan itu, hasil studi selama 11 tahun atas 6.000 pegawai pemerintah Inggris, tak menyebutkan bukti pasti bahwa jam kerja yang lama mengakibatkan sakit jantung koroner tapi memang memperlihatkan kaitan nyata, yang dikatakan para ahli mungkin berpangkal dari stres.

Secara keseluruhan, terdapat 369 kasus kematian akibat sakit jantung, serangan jantung tak mematikan dan kejang jantung di kalangan kelompok studi yang berpusat di London tersebut. Sementara itu, resiko terjadinya peristiwa yang tak menguntungkan ialah 60 persen lebih tinggi bagi orang yang bekerja lembur selama tiga atau empat jam.
Bekerja lembur satu atau dua jam di luar tujuh-jam kerja normal per hari tak berkaitan dengan peningkatan resiko sakit jantung.

"Kelihatannya mungkin ada permulaan, jadi tak terlalu buruk jika anda bekerja satu jam atau lebih daripada biasanya," kata Dr. Marianna Virtanen, ahli epidemiologi di Finnish Institute of Occupational Health dan University College London.

Peristiwa gangguan jantung yang lebih tinggi di kalangan orang yang bekerja lembur tergantung atas sejumlah faktor resiko lain termasuk merokok, kelebihan berat tubuh atau memiliki kolesterol tinggi.

Namun Virtanen mengatakan pada Selasa (11/5) bahwa mungkin saja gaya hidup orang yang bekerja lebih lama dari biasa bertambah buruk dari waktu ke waktu, misalnya akibat makanan yang buruk atau peningkatan konsumsi alkohol.

Yang lebih mendasar lagi ialah jam kerja yang lama mungkin berkaitan dengan stres yang berkaitan dengan pekerjaan, yang mencampuri proses metabolis, serta "sickness presenteeism", yaitu orang tetap masuk kerja sekalipun ia sedang sakit.

Virtanen dan rekannya menerbitkan temuan mereka di European Heart Journal, terbitan paling akhir.

Ketika mengomentari studi tersebut, Gordon McInnes, profesor di farmakologi klinis di University of Glasgow`s Western Infirmary, mengatakan temuan itu mestinya dapat menyebarkan dampak bagi dokter yang sedang memeriksa resiko sakit jantung pasien mereka.

"Jika dampak itu benar-benar memiliki hubungan sebab-akibat, kepentingannya jauh lebih besar daripada yang diakui secara umum. Stres akibat kerja lembur mungkin memberi sumbangan pada proporsi penting sakit jantung dan pembuluh darah," kata McInnes, sebagaimana dilaporkan kantor berita Inggris, Reuters.



Sumber : Antaranews.com

Rabu, 12 Mei 2010

Sahabatku Kemanakah Kita akan Kembali ?

Pernahkah kita merenungkan mengapa kita ada? Mengapa kita hidup di dunia ini?

Sahabatku ..... Apakah karena keinginan dan rencana-rencana kita sehingga kita ada? Tidak, kita tidak mungkin dapat menginginkan dan merencanakan karena kita belum ada.

Lalu, apakah karena keinginan dan rencana kedua orang tua kita? Bukan juga, berapa banyak pasangan suami istri yang menginginkan dikarunia anak tetapi belum juga diberi. Adanya kita bukan atas kehendak kita, bukan juga karena kehendak orang tua kita, lantas atas kehendak siapa?

Allah ta’ala menjelaskan dalam Al-Quran yang mulia :

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya” (Al-Hajj: 5)

Ya, adanya kita, adanya manusia, adanya jin, adanya alam semesta ini karena kehendak dan rencana Allah. Lantas, adanya kita tentu bukan karena Allah kurang kerjaan, iseng, atau hanya main-main saja, Allah menegaskan hal ini sebagaimana firman-Nya :

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main” (Al-Anbiya: 16)
Allah menerangkan bahwa Dia ingin menguji para hamba-Nya, siapa yang taat dan siapa yang durhaka, jadi kehidupan di dunia kita adalah untuk ujian! Sadarkah kita? Mengapa kalau UAN, kalau SPMB, begitu disiapkan dengan betul, sementara ujian yang paling besar terkadang kita lupa, atau pura-pura lupa, atau yang lebih parah lagi kelau kita tidak tau bahwa hidup kita untuk diuji! Mereka hidup seperti binatang, mereka hanya mengenyangkan perut dan apa yang di bawahnya, mengumpulkan harta, berbangga-bangga dengan dunia, lalu mati! Allah menjelaskan :



"[Dialah Allah] Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk:2)


Sahabatku, yang semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu …



Betul bahwa kehidupan adalah ujian kita, Allah akan menguji kebaikan amalan kita. Mengapa Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya? tetapi Allah mengatakan yang paling baik amalnya. Dijelaskan oleh Ulama Fudhail bin Iyadh bahwa yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya karena amalan tidak akan diterima kecuali ikhlas karena Allah dan sesuai dengan contoh Nabi shalallahu’alaihi wa sallam.


Sahabatku, yang semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu …



Seringkali kita lupa diri, tidak tahu diri, sehingga kita lupa dengan tujuan hidup ini, yakni ujian! Untuk mengingatkan kembali untuk apa kita di dunia ini, saya bawakan hadits-hadits (berita atau khabar) tentang surga dan neraka :


Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Surga dan neraka telah diperlihatkan kepadaku, maka aku belum pernah memandang hari yang lebih banyak mengandung kebaikan sekaligus keburukan daripada hari ini. Kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” Anas bin Malik melanjutkan, “Tidak ada hari setelah itu yang lebih berat bagi para Sahabat dibandingkan dengan hari tersebut. Pada hari itu, mereka semua menutup kepalanya sambil terisak-isak karena tangisan” (HR Bukhari dan Muslim )


Bagaimana sahabatku? Apakah hati kita tergetar mendengar khabar ini? Kalau seandainya tidak, maka kita adalah manusia yang sangat perlu untuk dikasihani, bagaimana tidak? Para sahabat Nabi Muhammad yang jiwa, raga dan hartanya telah mereka curahkan untuk membela dan memperjuangkan Islam, dengan ketakwaannya mereka adalah manusia yang sangat takut kalau-kalau akhir kehidupan mereka di neraka.



Sementara kita….? Apa yang telah kita persiapkan? Apa yang telah kita berikan untuk Allah? Mereka (shahabat Nabi Muhammad) dihina, dimusuhi, dilempari, diusir dari kampung halaman, disiksa seperti Bilal, lantas…pernahkah kita mengalami hal seperti itu?


Dalam riwayat lain disebutkan:

“Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit bersenang-senang dan banyak menangis, dan kalian juga tidak akan bersenang-senang terus di atas ranjang dengan istri kalian, lalu kalian akan keluar menuju ke pegunungan (tempat menyepi) untuk beribadah kepada Allah” Abu Dzar berkata, “Sampai-sampai aku menginginkan kalau diriku hanyalah pohon yang tumbang” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang hasan)


Begitulah, begitu mengerikannya ketika kita pada hari penghakiman yang agung, hanya ada 2 pilihan, surga atau neraka, sampai-sampai Abu Dzar, seorang sahabat Nabi yang keimanan dan amalnya tidak kita ragukan, membela Nabi, membela Islam…, beliau kalau diminta memilih daripada berada di hari penghakiman yang agung, beliau memilih menjadi sebatang pohon karena pohon tidak ada beban yang harus dipertanggungjawabkan.



Bagaimana dengan kita? Apa yang sudah kita siapkan untuk hari perhitungan (penghakiman) nanti? Apakah kita sudah menyiapkan amalan-amalan kebaikan? Apakah kita sudah berprinsip bahwa “waktu adalah ibadah”, atau malah selama ini kita hanya membuang-buang waktu dengan sesuatu yang kurang bermanfaat atau bahkan diisi dengan dosa dan kemaksiatan?!


Allah menjanjikan bagi hambanya yang taat akan diberi balasan yang tiada taranya di Surga kelak. Surga merupakan tempat yang tidak ada di dalamnya kecuali kenikmatan, dan kenikmatan yang paling nikmat adalah melihat wajah Allah, dzat yang selama ini kita bergantung kepadanya, dzat yang ketika kita sakit kita memohon kepada-Nya agar disembuhkan, dzat yang ketika kita kekurangan kita memohon kepadanya, dzat yang apabila kita mendapat nikmat kita bersyukur kepada-Nya, dzat yang selalu kita mohon kebaikan-kebaikan kepada-Nya.



Kita adalah perantau …

Sahabatku, yang semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu …



Bayangkan jika kita dalam sebuah perjalanan untuk menuju suatu pulau-kampung halaman kita. Kemudian dalam perjalanan melewati sebuah pulau kecil, nahkoda memerintahkan agar para penumpang singgah 3 hari untuk mengumpulkan bekal berupa makanan dan minuman. Kemudian kita masuk hutan untuk mengumpulkan bekal. Setiap penumpang bertanggung jawab masing-masing dan tidak dapat saling berbagi bekal, nafsi..nafsi (urusan masing-masing). Semuanya memikirkan keselamatan masing-masing karena begitu berat perjalanan bahkan seorang bapak tidak mungkin mau berbagi bekal dengan istri dan anak-anaknya, seorang ibu juga tidak akan mau berbagi bekal kepada anaknya, masing-masing sangat membutuhkan bekal tersebut untuk keselamatannya.


Apa yang akan engkau lakukan dalam 3 hari tersebut? Tentu engkau akan memanfaatkan waktu yang hanya 3 hari untuk mencari makanan, mencari buah-buahan dan air segar untuk bekal perjalanan karena perjalanan masih jauh. Tetapi tidak semua seperti itu saudaraku, banyak diantara mereka malah bersenang-senang di pulau kecil tersebut, membuat rumah bahkan ditingkat, bersenang-senang sampai lupa bahwa mereka akan kembali melanjutkan perjalanan sehingga harus mengumpulkan bekal yang cukup untuk sampai ke pulau kampung asal kita. Ketika nahkoda mengumumkan agar semua penumpang naik ke kapal karena perjalanan akan dilanjutkan, apa yang terjadi? Sebagian penumpang mengumpulkan bekal yang cukup, sebagian hanya sedikit saja, dan sebagian lagi lupa untuk pulang ke kampung halaman-mereka malah bersenang-senang di pulau tersebut, membuat rumah bertingkat, membuat sawah yang luas, beternak binatang dan lain sebagainya. Orang yang mengumpulkan bekal cukup maka akan sampai ke kampung asal dengan selamat, orang yang mengumpulkan bekal sedikit akan sakit-sakitan di perjalanan bahkan bisa jadi meinggal dunia, adapun orang yang lupa akan perjalanan akan tinggal dipulau kecil tersebut dan tidak akan pernah kembali ke kampung asalnya. Kemudian tersiar kabar bahwa Pulau kecil tersebut ternyata pada hari ke 7 sudah hilang tersapu tsunami!


Sahabatku, yang semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu …



Hakikatnya kita semua adalah perantau, kita hanya singgah sebentar di dunia ini. Ingatlah saudaraku, kampung halaman kita adalah di Surga, kakek moyang kita asalnya tinggal di surga. Bukankah Adam ‘alaihissalam asalnya tinggal di surga? Kalau kita tidak dapat pulang ke surga, berarti kita telah terlena seperti penumpang yang bersenang-senang dipulau kecil tersebut.


Saudaraku, saya sampaikan wasiat yang wasiat ini juga merupakan wasiat Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam dan Sahabatnya yang mulia, Ibnu Umar radhiallahu’anhuma


Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:

”Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam pernah memegang pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau pengembara’. Ibnu Umar radhiallahu’anhuma berkata, “Apabila kamu berada pada waktu sore janganlah kamu menunggu pagi hari, dan jika kamu berada pada waktu pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang kematianmu’ (HR. Bukhari , Hadits Arbain An-Nawawiyah No.40)

Demikianlah wasiat Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dan juga wasiat sahabat Ibnu Umar radhiallahu’anhuma.


Sahabatku, yang semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu …



Agar engkau tidak tersesat, agar engkau dapat pulang ke kampung halaman-yakni ke Surga, maka engkau harus mempelajari agama Islam dengan benar, ikhlas dan serius. Untuk urusan kuliah saja engkau dapat serius, berapa banyak waktu, fikiran, tenaga dan dana tercurahkan untuk kuliah? Sekarang, berapa banyak waktu, fikiran, tenaga dan dana untuk menuntut ilmu agama yang telah engkau curahkan?


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, (HR. Al-Hakim)


Sahabatku, yang semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu …



Kita sering berdoa ”Ya Tuhan, berikanlah kami kebaikan di dunia dan berikanlah kami kebaikan di akhirat” Kebaikan di dunia adalah iman dan amal shalih dan kebaikan di akhirat tidak ada yang lain kecuali Surga. Tidaklah dikatakan iman kecuali dibangun diatas ilmu.


Kemanakah engkau akan pergi melangkah?

Sahabatku, yang semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu …



Jalan petunjuk telah jelas, dan jalan kesesatan juga jelas. Saya yakin bahwa engkau akan mengikuti jalan petunjuk, mempelajari ilmu agama Islam dan mengamalkannya. Engkau tidak akan mau terlena seperti penumpang yang bersenang-senang di pulau kecil itu bukan? Jangan sampai engkau memohon ketika ajal menjemput, pada saat meregang nyawa kemudian engkau memohon kepada Allah :


”Kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang kebaikan terhadap yang telah aku tinggalkan” (Al-Mu’minun :100)


Dan saat itu, keinginanmu tidak pernah akan dikabulkan.....Yang tinggal hanya kesedihan dan penyesalan selamanya....................



Sahabatku, yang semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu …

Orang bijak berkata bahwa hidup adalah rangkaian ikhtiar demi ikhtiar yang tak selalu berujung dengan kesenangan atau keberhasilan. Karena perjalanan hidup memang tidak selalu mulus, sesuai dengan harapan kita. Hidup itu sendiri merupakan perpindahan dari satu masalah ke masalah lain. Dunia dengan segala godaannya yang memikat hati adalah tempat masalah, tempat iman kita diuji dengan derita atau bahagia, dengan kebaikan atau keburukan, hingga Allah mengetahui siapa yang benar-benar berjihad dan bersabar di jalan-Nya (QS. 47: 31) serta siapa yang terbaik amalnya (QS. 67: 2). Allah pun telah berfirman:

"Apakah kamu mengira akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. 2: 214)

Yang harus kita yakini adalah Allah tak akan membebani seseorang di luar batas kesanggupannya (QS. 2: 286). Rasulullah saw. pun bersabda: "Seseorang diberi cobaan menurut kadar kekuatan dien yang dimilikinya. Semakin kuat diennya semakin kuat pula cobaannya dan bila diennya melemah, melemah pula cobaannya. Ujian berjalan seiring dengan kadar diennya." (HR. Bukhari , Ahmad dan Turmudzi)

Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama Islam dan menempuh bimbingan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)


Sumpah Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan masa (waktu) menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal kebaikan. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.


Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.



Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpah-kan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para Shahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan kebaikan hingga hari Kiamat. Amin



Wallahu a’lam bishawab

Minggu, 25 April 2010

Ikhlas Dalam Bekerja

Ungkapan ikhlas sering kita dengar. Bahkan, hampir seluruh dai selalu menyampaikan makna ikhlas berikut manfaatnya.
Makna ikhlas amatlah dalam, bahkan semua manusia tidak pernah tahu apakah dirinya ikhlas atau tidak. Seluruh ibadah menuntut keikhlasan nyata (totalitas) tanpa mengharap sesuatu (QS Yunus [10]: 105 dan Annisaa' [4]: 125).

Ketika ikhlas itu sudah terpatri dalam diri manusia, ia akan semakin tenang dalam menjalani hidup. Ia tidak akan pernah gelisah menghadapi berbagai cobaan dan ujian. Karena, ia yakin, semuanya adalah kehendak Allah .
Maka, ia pun tidak menuntut nilai, derajat, pangkat, dan kedudukan dari ibadah yang ia kerjakan.
Hanya rida Allah yang diharapkannya sebagai bekal kebahagiaan di dunia dan di akhir kelak.

Jika kita dituntut untuk selalu ikhlas dalam ibadah , demikian pula dalam bekerja. Ikhlas dalam bekerja adalah selalu berusaha menghidupkan lentera Ilahi di dada dan tidak mengharap balasan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Salah seorang tabiin, Ruwaim, mengatakan bahwa ikhlas dalam berbuat amal adalah menuntut pelakunya tidak berharap apa pun akan dunia bahkan akhirat.

Seorang petani yang mulai pagi sampai sore bekerja tentu mengharap imbalan. Imbalan yang terbayang dalam hatinya adalah hasil panen yang memuaskan dan bisa untuk membiayai hidup keluarganya.

Seorang pegawai, yang selalu sibuk di kantor dari pagi sampai sore bahkan malam hari, selalu mengharap gaji yang cukup untuk anak istrinya. Apakah orang demikian tidak ikhlas? Kita tidak bisa memvonisnya demikian karena vonis terhadap manusia hanyalah kekuasaan Allah . Kita tidak mempunyai hak sama sekali untuk memberi keputusan yang kita tidak tahu hakikatnya.

Yang harus selalu kita lakukan adalah berusaha agar ikhlas itu terus ada dan menyala dalam diri kita, tak peduli di mana pun dan kapan pun kita berada. Karena, hanya dengan nyala ikhlas itulah , kita akan selalu berusaha mendekatkan diri kepada All ah . Petani, pegawai, dan semua profesi di dunia ini harus memiliki nilai ikhlas.

Keikhlasan tertinggi ditandai oleh semangat juang tinggi dan tak pernah meninggalkan Allah dalam setiap usahanya. Wajar jika seorang petani mengharapkan hasil panen yang memuaskan. Asalkan didasari oleh kebaikan dan hasilnya juga untuk kebaikan, insya Allah semuanya akan dihitung ibadah karena petani itu sudah mengikuti perintah Allah untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya.

Memang, ikhlas itu sangat sulit untuk dilakukan, apalagi untuk dipertahankan terus menerus dalam diri kita. Sebab, hawa nafsu selalu mengelilingi manusia. Maka, cara yang paling efektif untuk membangun ikhlas dan memeliharanya adalah selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan: sedih, bahagia, kaya, ataupun miskin. Selain itu, tidak terlalu ambisius dengan gemerlapnya dunia karena itu hanya bersifat sementara.

Rabu, 31 Maret 2010

Aku Bangga Menjadi Seorang Muslim

Aku seorang Muslim
Kamu pasti bisa melihatnya
Yuk, aku ceritakan tentang diriku
Aku beribadah kepada Allah
Dan berdoa hanya kepada Allah
Berdoa kepada selain Allah
Itu adalah dosa yang paling besar
Aku mencintai Nabi-Nabi Allah
Dan Rasul-Rasul-Nya
Semoga Allah mencurahkan

Shalawat dan salam kepada mereka semuanya
Hari-hariku selalu menyenangkan
Aku ruku’ dalam shalat
Setiap hari aku shalat
Lima kali sehari kepada Allah
Subuh yang paling awal
Kemudian Dzuhur di tengah hari
Lalu Ashar di sore hari,
Magrib setelah matahari terbenam
Dan Isya yang paling terakhir

Anak laki-laki ikut ayah shalat berjama’ah di masjid
Sedangkan anak perempuan, shalat bersama ibu di rumah.
Kamu juga kan..?

Aku selalu mengingat Allah
Sepanjang hari
Dalam setiap hal yang aku kerjakan
Dan setiap hal yang aku katakan
Dalam setiap keadaan
Ada petunjuk yang harus dilakukan
Petunjuk itu dari Al-Qur’an
dan Suunah

Kalian tahu tidak, petunjuk itu apa?
Jika memakai kaus kaki atau sepatu
Aku mendahulukan kaki kananku
Ketika melepasnya

Kudahulukan kaki kiriku
Jika aku berpakaian
Aku mengenakan pakaian tertutup
Agar kelihatan sebagai seorang Muslim
Kamu juga melihatnya kan
Dan jika aku bertemu

Dengan teman Muslim lainnya
Aku tidak memanggil mereka dengan “Hai!”
Itu bukan cara seorang Muslim
Aku akan berkata kepada mereka setiap kali
bertemu

“Assalamu‘alaikum
Itulah cara terbaik untuk menyapa sesama
Muslim

Dan kalau mereka mengucapkan salam terlebih dahulu
Aku menjawab dengan “Wa’alaikumsalam”

Atau menjawab dengan yang lebih lengkap:
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”

Untuk setiap anugerah dari Allah
Aku berterima kasih kepada-Nya
Dengan mengucapkan
“Alhamdulillah”

Dan jika ada sesuatu
Yang akan kukerjakan nanti
Aku akan berkata “Insya Allah”
Kamu juga kan..??

Ketika akan keluar rumah
Kuucapkan salam kepada keluargaku.
Lalu di depan pintu aku berdo’a: “
Bismillahi tawaqaltu ala Allah Laa haula wala quwwata illa billah”


Agar Allah melindungiku
Dan jika aku kembali, aku
mengucapkan doa pula
“Bismillahi wa lajnaa, wa bismillahi kharajna,
wa ‘ala rabbana tawakkalna.”


Kemudian memberi salam, lalu masuk ke
dalam rumah
Ketika aku makan
Aku akan perlihatkan kepadamu
Bahwa aku seorang Muslim
Dan makan dengan cara Muslim
Sebelum makan, aku mengucapkan

“Bismillah”
Lalu aku makan dengan tangan
kananku
Aku tidak menyisakan makanan pemberian Allah
Aku makan secukupnya
Jangan sampai terlalu kenyang
Nanti jadi tidak bisa bergerak
Dan membuat tubuh menjadi malas
Aku tidak pernah minum sambil berdiri

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya:
Sebagai seorang Muslim, aku harus taat kepada Rasulullah.
Kamu juga kan…?

Aku selalu berusaha berbuat baik
Membantu yang kesusahan,
Dan sayang kepada saudara Muslim
Karena aku tahu, Allah juga akan menyayangiku
Jika hendak masuk ke kamar kecil
Aku berdo’a di depan pintu:

“Allahumma a’udzubika minal khubutsi wal khaba’its
Lalu masuk dengan kaki kiri lebih dahulu
Aku membersihkan kotoran dengan tangan kiri
Setelah selesai, aku keluar
Dengan kaki kanan lebih dahulu
Lalu mengucapkan doa:


“Ghufraanaka”

Nah, malam telah tiba, waktunya aku harus tidur
Sebelum tidur aku membaca

“Bismika Allahumma amuutu wa ahya”
Lalu berbaring menghadap ke kanan
Dan ketika bangun esok harinya
Aku membaca:


Alhamdulillahi ladzi ahyaana ba’da maa amaatana
Wailaihin nusyur
Beginilah seharusnya adab seorang Muslim
Alhamdulillah, Aku bangga menjadi Anak Muslim!
Kamu juga kan…?

Sumber: Islam4Kids.com dengan beberapa penyesuaian.

Dialihbahasakan oleh:
Ummu Abdullah

Desain Sampul:
Ummu Zaidaan

Edisi Revisi ke II